Harga Ayam Potong Melonjak Tajam di Medan Selama Ramadan

Tidak hanya daging sapi yang mengalami kenaikan daging ayam juga mengalami kenaikan harga yang tajam selama Ramadan. Dari harga biasanya Rp 25 ribu per kg kini mencapai Rp 38 ribu s

22
harga ayam potong di medan
Seorang pedagang daging ayam potong di Pasar Pringgan Medan sedang melakukan aktivitasnya. (Foto : Rivan Adzhari)

Kitakini.news – Harga ayam potong atau broiler di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan naik tajam. Kenaikan tersebut mulai terjadi beberapa hari sebelum Ramadan dan terus merangkak naik hingga saat ini.

Di pasar Tradisional Pringgan Medan, ayam potong dijual dengan harga Rp 38 ribu per kilogram. Salah seorang pedagang, Risma (40) mengatakan, kenaikan harga ini terjadi sejak beberapa hari sebelum Ramadan.

“Belum pernah turun. Naik terus sampai sekarang. Susahlah jualnya,” kata Risma kepada Kitakini News, Kamis (16/5/2016).

Risma menyebutkan, sebelum Ramadan, ayam potong masih dijualnya dengan harga Rp 25 ribu per kg. Setelah Ramadan, harga terus naik hingga saat ini mencapai Rp 38 ribu per kg. Sepekan terakhir, dia mengatakan, ayam ras dijualnya seharga Rp 38 ribu per kg.

Minimnya ketersediaan barang di sejumlah pemasok disinyalir menjadi penyebab naiknya harga secara signifikan.

“Kalau kata pemasok, mulai sedikit barang. Di pasar manapun sedikit. Jadi mereka bikin harga yang tinggi. Mau nggak mau, ya harganya naik, sedangkan permintaan banyak” ucapnya.

Baca Juga : Baliho Ucapan Selamat untuk Prabowo Sandi Terpasang di Tembung

Tak ayal, kenaikan harga ayam tersebut dikeluhkan oleh para pembeli. Juniar (46), salah satu pemilik warung makan mengatakan, kenaikan tersebut membuat untung yang didapat semakin tipis. Meski tinggi, dia tetap membeli ayam untuk dijualnya kembali sebagai lauk.

“Mau gimana lagi. Kan nggak mungkin nggak dibeli. Namanya kita orang jualan nasi. Menu ayam itu harus ada,” kata Juniar.

Harga Ayam Potong di Medan Naik, Pengamat : Pakan Masih Bergantung Impor

Soal harga ayam potong di Medan yang mengalami kenaikan, Pengamat ekonomi Benjamin Gunawan mengatakan, ketergantungan bahan impor masih sangat tinggi.

Komponen impor dalam produksi telur dan daging ayam di dalam negeri mencapai sekitar 60 persen. Impor itu berasal dari mulai indukan ayam atau yang biasa disebut grandparents stock. Selain itu juga bahan baku pakan ayam, hingga vitamin yang diberikan untuk unggas.

Dari sisi pakan, Benjamin menyebut perusahaan pakan unggas masih sangat bergantung pada bahan baku berupa jagung impor. Sebab, harga jagung impor jauh lebih murah dibanding jagung lokal.

“Komponen impornya sangat besar, walaupun dari sisi produksi kita swasembada,” kata Benjamin Gunawan ketika dihubungi.

Besarnya komponen impor tersebut membuat komoditas telur dan ayam rentan mengalami gejolak harga. Hal itu terutama saat kurs rupiah sedang mengalami tekanan seperti saat ini.

Baca Juga : DMI Resmikan Masjid Corner Untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Milenial

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengurangi ketergantungan akan bahan baku impor. Untuk indukan ayam, misalnya, ia meyakini peneliti di dalam negeri memiliki kapasitas untuk mengembangkan indukan ayam yang bisa tumbuh secara cepat dan efisien. Namun, dibutuhkan dukungan dari pemerintah agar hasil dari pengembangan tersebut dapat diaplikasikan secara luas di dalam negeri

Cara lain, lanjutnya, yakni dengan mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat dari ayam negeri ke ayam kampung.

“Pemerintah bisa memberikan subsidi untuk ayam kampung sehingga itu yang berkembang,” pungkasnya.

Kontributor : Rivan Adzhari
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here