Persidangan Pelaku Teror Masjid New Zealand, Keluarga Korban : Dia Binatang

Pelaku penembakan 51 orang di dua masjid New Zewland, Brenton Tarrant mengaku tidak bersalah atas seluruh tuduhan yang dituduhkan kepadanya dan hal itu membuat keluarga korban marah, sehingga menyebutnya sebagai binatang.

8
pelaku teror di masjid new zealand

Kitakini.news – Pengacara pelaku teror masjid di New Zealand, Brenton Tarrant (28) menyebutkan bahwa kliennya tidak bersalah atas tindakannya itu. Hal itu diungkapkannya saat sidang, Jumat (14/6/2019).

Brenton mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Malah, dalam persidangan itu, Brenton melontarkan banyak senyum.

Jelas saja, 51 keluarga korban yang dibantai oleh Brenton marah. Karena tidak terima dengan pengakuan Brenton yang merasa tak bersalah dengan perbuatannya.

“”Itu menunjukkan bahwa dia binatang,” tegas Mustafa Boztas, salah satu korban yang terluka dalam serangan tersebut seperti dilansir AFP, Jumat (14/6/2019).

Mustafa merasa sangat kecewa dan sedih atas perbuatan yang tidak manusiawi yang telah dilakukan Brenton.

“Saya merasa sedih karena seseorang bisa begitu tidak manusiawi dan merenggut nyawa orang-orang tak bersalah,” ungkapnya.

Baca Juga : Suriah Tembak Jatuh Rudal Israel

Diketahui, sidang Brenton itu dapat disaksikan oleh keluarga korban via link video dari penjara dengan pengamanan yang maksimum di Auckland. Dalam persidangan itu, kondisi kejiwaan Brenton dalam keadaan sehat dan siap menjalani persidangan.

Sebab, sebelumnya, hakim telah memerintahkan untuk memeriksakan kejiwaan dan mentalnya. Persidangan hanya akan dilakukan bila tes jiwa kesehatannya dianggap layak.

Brenton didakwa atas 51 dakwaan pembunuhan dan 40 dakwaan percobaan pembunuhan. Brenton juga didakwa terlibat dalam aksi teroris.

Persidangan Pelaku Teror Masjid New Zealand Dilanjutkan Tahun Depan

Sayangnya, Hakim Cameron Mander menetapkan tanggal persidangan di 4 Mei tahun depan. Mander pun melarang para jurnalis mengambil foto atau video kemunculan Tarrant.

Menanggapi hal itu, Didar Hossain yang paman dan teman-temannya tewas dalam serangan itu, kecewa karena butuh waktu terlalu lama untuk mengadili pelaku.

“Seharusnya selesai dalam enam bulan, itu akan bagus buat kami. Kami tidak senang,” ungkap Didar.

Di dalam persidangan sebelumnya, Jumat (5/4/2019), hakim tak mengizinkan tersangka mengajukan pembelaan. Mengingat, aksi penembakan brutal yang dilakukan Brenton Tarrant merupakan aksi yang paling mematikan yang pernah terjadi di Selandia Baru.

Diketahui, saat serangan biadab yang dilakukan Brenton 15 Maret 2019 lalu, Brenton Tarrant menembak dengan membabi buta puluhan orang saat berada di Masjid Al Noor. Lalu, Brenton Tarrant melanjutkan aksi kejinya di Masjid Linwood dan saat itu dia menyiarkan secara langsung aksi kejamnya itu di Media Sosial.

Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here