Perkawinan Sedarah Melanggar Undang-undang dan Ajaran Agama

Perkawinan sedarah yang dilakukan FM dan AM, warga Bulukumba, Sulsel ternyata melanggar Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.

83
perkawinan sedarah
Ilustrasi perkawinan sedarah. (foto : iStock)

Kitakini.news – Perkawinan sedarah yang dilakukan FM (21) dan AM (32)warga Bulukumba, Sulawesi Selatan, ternyata telah melanggar Undang-undang (UU).

Berdasarkan pasal 8 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan bahwa salah satu jenis perwakinan yang dilarang berdasarkan UU itu adalah perkawinan sedarah.

Sebagaimana dilansir dari laman unsrat.ac.id, berikut bunyi pasal 8 UU Nomor 1 Tahun 1974 :

Perkawinan dilarang antara dua orang yan g:

  1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah ataupun keatas.
  2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.
  3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri menantu dan ibu/bapak tiri.
  4. Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara susuan dan bibi/paman susuan.
  5. Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau kemenakan dari isteri, dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang.
  6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.

Berdasarkan pasal 8 tersebut, jelas saja apa yang dilakukan AM dan FM, melakukan pernikahan sedarah, melangggar UU. Pernikahan itu pun dianggap tidak sah.

Selain itu, petugas pencatat perwakinan yang mengetahui hal tersebut dilarang untuk menikahkan pasangan sedarah.

Hal itu sesuai dengan pasal 20 UU 1 1974 yang berbunyi :

“Pegawai pencatat perkawinan tidak diperbolehkan melangsungkan atau membantu melangsungkan perkawinan bila ia mengetahui adanya pelanggaran dari ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 12 Undang-undang ini meskipun tidak ada pencegahan perkawinan.”

Pernikahan sedarah bisa dipidanakan, apabila pelakunya memalsukan dokumen sebagai syarat pernikahan tersebut.

“Ada pengelabuan hukum terkait pidana, dalam kasus ini perlu dipastikan lagi. Tapi jika memang itu ada pemalsuan dokumen, saksi palsu, bisa dituntut memberikan keterangan palsu dan dalam hukum pidana itu bisa,” papar Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Wirdyaningsih, sebagaimana dilansir dari  dari Hukumonline.com, Jumat (5/7/2019).

Baca Juga : Pelaku Penjambret Ibu Gendong Bayi Hingga Terjungkal Diringkus

Perkawinan Sedarah Dilarang dalam Al Quran

Ajaran Agama Islam jelas-jelas melarang pernikahan sedarah. Ketua Komisi Fatwa MUI Sulsel, Prof. Rusydi Khalid mengungkapkan secara tegas, Islam melarang pernikahan lelaki dengan adik perempuannya.

“Haramnya perkawinan seperti itu disebutkan dalam Al Quran,” papar Prof Rusydi.

Larangan tersebut sesuai dengan perintah Al Quran, surat An Nisa ayat 23. Bunyi ayat tersebut “Diharamkan atas kamu mengawini ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara perempuanmu, tante/saudari ayah, bibi/saudari ibu, putri saudara, putri dari saudari/ saudara perempuan, ibu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu isteri/ mertua perempuan, anak perempuan isterimu yang dalam pemeliharaamu dari isteri yang telah kamu campuri”.

Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here