Pertemuan Prabowo-Jokowi, Ini Kata Pengamat

Sosiolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU), Shohibul Anshor Siregar mengungkapkan bahwa pertemuan Prabowo dan Jokowi belum menandakan berakhirnya perserteruan antara cebong dan kampret.

108
pertemuan prabowo jokowi
Pertemuan Prabowo Subianto dan Joko Widodo di stasiun MRT, Jakarta, Sabtu (13/7/2019) lalu. (foto : kompas.com)

Kitakini.news – Momen pertemuan Prabowo-Jokowi di Stasiun MRT Senayan, Jakarta Sabtu (13/7/2019) kemarin, masih menjadi perbincangan hangat bagi para netizen. Padahal keduanya memiliki pandangan politik yang berseberangan pada Pilpres 2019 lalu.

Menanggapi hal itu, Sosiolog Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FISIP UMSU), Shohibul Anshor Siregar mengutarakan pandangannya mengenai sikap Prabowo.

Menurutnya, sikap Prabowo tersebut menunjukkan ketidaksetiaannya terhadap para pendukung. Sebab menurutnya, dengan sikap yang ditunjukan Prabowo, Shohibul yakin para pendukung (non partai) perlahan-lahan akan meninggalkannya.

“Bukanlah pengecut, tapi taklah pemberani. Bukanlah bodoh, tapi taklah pintar. Bukanlah pecundang, tapi taklah ksatria. Bukanlah paok, tapi taklah cerdas. Bukanlah cebong, tapi taklah kampret. Bukanlah pengkhianat, tapi taklah setia. Selesai,” kata Shohibul melalui panggilan Whats App, Senin (15/7/2019).

Tidak hanya itu, menurutnya juga istilah Cebong dan Kampret tidak akan hilang meski Prabowo dan Jokowi telah bertemu. Sikap Prabowo itu bagaikan sebuah manuver politik yang tidak diharapkan para pendukung untuk menjadi oposisi. Dengan begitu, gerakan oposisi untuk mengkritik pemerintah bakal tak menuai simpati dari masyarakat.

“Cebong menyebut Indonesia bersatu kembali dan ini sejarah. Kampret bilang, Yusril Ihza Mahendra saja sudah duluan menyeberang. Dengan tanpa Prabowo para kampret sejati tak akan bergeming,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade memastikan pertemuan Prabowo Subianto dan Joko Widodo, Sabtu (13/7/2019) tidak membicarakan deal politik dan bagi-bagi kursi.

“Kita akan jelaskan ke pendukung bahwa tidak ada deal-deal politik sama sekali. Tidak ada pembagian kekuasaan, tidak ada deal-deal politik, tidak ada pembagian kursi menteri,” papar Andre sebagaimana dilansir detik.com, Senin (15/7/2019).

Baca Juga : Dukung Anies Baswedan jadi Presiden, Tagar #AniesBaswedanFor President Jadi Trending

Pertemuan Prabowo-Jokowi, Pengamat Bilang Cebong VS Kampret Belum Berakhir

Pertemuan Prabowo dan Jokowi bukanlah menjadi satu langkah rekonsiliasi antara Cebong dan Kampret. Sebab, Shohibul beranggapan, perbedaan pandangan (polarisasi) politik saat ini yang menjadi dinding pemisah antara kedua pendukung. Hal itu tidak mudah untuk diperbaiki, akan tetapi Shohibul masih melihat adanya jalan pintas menuju rekonsiliasi itu.

“Polarisasi politik yang sekarang tidak mudah diperbaiki kecuali Jokowi mau berubah semakin sayang kepada umat Islam,” tandasnya.

Kontributor : Dhabit Barkah
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here