Menpar Minta Bupati Bangun Destinasi Berbeda di Kawasan Danau Toba

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, melakukan kunjungan ke Danau Toba di Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.

40
danau toba
Menteri Pariwisata Arief Yahya berjabat tangan dengan Bupati Toba Samosir Darwin Siagian saat meninjau destinasi The Kaldera Toba Noamdic Escape, kemari. (Foto : Syahrial Siregar).

Kitakini.news – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, mendorong para kepala daerah di kawasan Danau Toba untuk melakukan pembangunan destinasi wisata di wilayahnya, sebagai bagian percepatan pembangunan di kawasan tersebut.

Arief Yahya pun berjanji akan menggarap setiap usulan pembangunan destinasi wisata dari setiap kepala daerah, sebagaimana kesepakatan dalam bentuk prasasti bersatu membangun Danau Toba.

“Jadi Saya dulu pernah berjanji, bupati manapun yang mengusulkan akan Saya garap,” ujar Menpar usai meninjau pembangunan hotel di Desa Tampubolon, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Jumat (19/7/2019) pagi.

Dikatakan Menpar, beberapa kepala daerah di kawasan Danau Toba sudah mulai mengusulkan destinasi apa yang akan dikembangkan. Namun, kata Menpar, setiap usuluan tersebut harus berbeda dengan wilayah dan kabupaten lainnya.

“Misalnya Kabupaten Tapanuli Utara ngusulin, Saya garap. Tapi ada catatannya ya, jangan sama pembangunannya. Dari awal sudah Saya katakan, masing-masing destinasi harus punya pebedaan atau diferensiasi,” ungkap Menpar.

Arief Yahya menambahkan, untuk kunjungan jumlah pariwisata di Danau Toba akan ditarget mencapai 1 juta wisatawan. Meski saat ini jumlah wisata yang berhadir ke Danau Toba berjumalah 300 ribu pengunjung.

“Teman-teman juga harus menerima target 1 juta. Logikanya begini. Kalau targetnya tidak satu juta, Danau Toba tidak akan kita bangun seperti ini,” ungkapnya.

Menurut Menpar, dari jumlah 1 juta pengunjung, maka akan mengahasilkan proyeksi devisa 1 miliar dollar. Sehingga dengan 1 miliar dollar devisa artinya akan menghasilkan 14 triliun.

“Kalau 1 miliar USD itu berarti 14 triliun. Kalau dapat menghasilkan 14 triliun dan saya harus investasi di sini 2 triliun, itu adalah hal yang kecil,” tukas Menpar.

Baca Juga : Pemilik Bolu Meranti Belum Bisa Dikonfirmasi Terkait Logo Halal Produk

Pendidikan dan Lingkungan Faktor Penting Percepatan Pembangunan

Untuk percepatan pembangunan, kata Menpar, ada dua hal yang diusulkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi yakni pendidikan dan lingkungan. Pendidikan, kata Menpar, Edy meminta agar 70 persen SLA harus SMK dan 30 persen SMA.

“Saat itu pak Presiden langsung setuju dan oke dengan usulan itu. Sehingga anak-anak kita lulusan yang dekat dengan destinasi pariswisata langsung bisa bekerja di sini,” ungkap Menpar.

Tapi, kata Menpar menurut catatannya, anak-anak tersebut jangan langsung jadi manager. Biarkan 5 tahun pertama General Manajer (GM) dari luar dulu. Anak-anak kita belajar dulu, istilahnya Twining dulu, kelak anak-anak kita 5 tahun lagi sudah bisa ya enggak apa-apa.

“Itu yang dilakukan di Bali dan Batam. Tapi kalau ada orang-orang baru didukung, jangan dibuat rame memang itu adalah merupakan strategi kita,” kata Menpar.

Baca Juga : Tingkatkan Mutu Pendidik dan Sekolah, Majelis Dikdasmen Kota Medan Selenggarakan Pelatihan

Danau Toba Diminta Untuk Lebih Bersih

Menyoal masalah lingkungan, kata Menpar, menurut Gubernur Sumatera Utara kontraknya ada di pusat. Teman-teman di LHK dan yang related KKP dan sebagainya. Bagaimana nanti ujungnya, yang terjadi di sini sudah kembali baik.

Disinggung mengenai keberadaan Kerambah Jaring Apung (KJA) yang dapat menghambat percepatan pembangunan di Danau Toba, Menpar menjawabnya dengan santai.

“Itu Saya katakan seperti ayam dan telur. Kalau kita tidak berani ke UGG maka pencemaran akan bertambah. Sama ini kalau kita analogikan, Saya datang ke Danau Tondano ada yang tanya, bagaimana menghilangkan enceng gondok. Saya bilang, kalau tidak berani mengadakan event di Tondano se umur-umur, Tondano akan seperti ini. Hadapi saja, undang saja UNESCO, jadi biarkan bersih nanti dengan sendirinya,” tegas Menpar.

Namun, kata Menpar, kalau Danau Toba tidak bersih tidak akan keluar sertifikat. Kalau tempat yang paling oke,- Saya sih di Danau Toba.

“Kita lihat saja kenapa Danau Toba. Untuk Jawa Tengah dan Jogja berdebat habis-habisan, kita pilih Borobudur. Banyak di sana destinasi. Tapi kita harus memilih. Branding itu tidak murah,” ungkap Menpar.

Dikatakan Menpar, jadi kalau di sini ada yang protes boleh. Tapi kalau tidak ambil keputusan maka akan semakin buruk untuk Sumut. Tidak akan pernah kamu punya yang berkelas dunia.

“Yah sudah, jawa Tengah sudah ada Borobudur. Di sini Danau Toba. Danau Toba pilihan terbaik yang kita punya,” pungkas Menpar.

Reporter : Syahrial Siregar
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here