Kasus Seorang Pria Bunuh Abang Ipar, Psikolog : Karena Harga Dirinya Terusik

Kasus pembunuhan abang ipar yang dilakukan oleh adik iparnya sendiri beberapa waktu lalu disebabkan oleh terusikanya harga diri seseorang, sehingga jadi pemicu untuk nekat  menghabisi nyawa keluarga terdekatnya.

34
seorang pria bunuh abang ipar
Psikolog, Irna Minauli (foto : facebook irna minauli)

Kitakini.news – Kasus seorang pria bunuh abang ipar beberapa waktu lalu disebabkan oleh terusikanya harga diri seseorang, sehingga jadi pemicu untuk nekat  menghabisi nyawa keluarga terdekatnya.

Sebab, penghinaan terhadap anggota keluarga dekat seperti istri dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya sendiri. Sehingga seseorang tersebut cenderung akan mengambil alih peran sebagai eksekutor.

Hal itu disampaikan Psikolog, Dra Irna Minauli M.Si menjawab Kitakini.news perihal kasus seorang pria di Deliserdang yang membunuh abang iparnya karena persoalan tidak senang istri dan mertuanya dihina.

“Dalam kasus ini, penyebabnya pelaku tega menghabisi nyawa abang iparnya karena terusik harga dirinya,” ujar Dra Irna Minauli lewat telepon selulernya, Selasa (13/8/2019).

Dijelaskannya, bagi banyak pria, penghinaan yang dirasakan terhadap orang dekatnya sering dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya.

Padahal, kata dia, dalam beberapa kasus, pertengkaran dalam keluarga dianggap hal yang umum dan biasa terjadi.

“Akan tetapi, ketika hal itu terdengar oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Maka kondisi tersebut akan terasa sangat mengganggu dan membangkitkan kemarahan yang selama ini mungkin telah dipendamnya. Sehingga mereka cenderung akan mengambil alih peran sebagai eksekutor,” jelas Direktur Minauli Consulting itu .

Dengan begitu, disebutkan Irna Minauli, ketika kemarahan memuncak, maka beberapa orang cenderung akan kehilangan pertimbangan karena beranggapan bahwa stressor (sumber stres) harus segera dihabisi.

“Dengan dihabisi, maka diharapkan mereka akan menjadi lebih tenang. Mereka yang sedang marah dan kemudian mengamuk sambil membabi buta cenderung tidak memiliki banyak pertimbangan. Mereka cenderung hanya menuruti dorongan latar hatinya untuk menghabisi korban,” sebutnya.

Dari itu, Irna Minauli menyarankan untuk melakukan pendekatan serta berkomunikasi secara persuasif kepada keluarga. Tujuannya untuk mengatisispis hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dalam kondisi marah yang luar biasa, orang cenderung tidak memiliki banyak pertimbangan lagi. Oleh karenanya, sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, sebaiknya melakukan komunikasi dengan menyelesaikan secara dewasa,” imbuhnya.

Ditambahkannya, selain berkomunikasi dengan persuasif. Tidak ada salahnya juga dalam satu rumah jangan terlalu banyak orang. Hal itu guna menimalisirkan timbulnya gejolak persoalan-persoalan yang terjadi.

“Dengan tidak banyaknya orang di rumah. Tentunya intervensi satu dengan lain bisa saja tidak terjadi. Sehingga persoalan yang mengakibatkan dampak besar bagi diri sendiri dan orang lain bisa terhindarkan,” tambahnya.

Hanya karena Istri dan Mertuanya Dimaki, Seorang Pria Bunuh Abang Ipar

Diberitakan sebelumnya, diduga karena tidak senang istri dan mertuanya dihina dan dimaki, seorang pria berinisial D (45) tega membunuh abang iparnya sendiri.

Peristiwa ini terjadi di kediamannya yang terletak di Jalan Sultan Ujung, Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, Sabtu (10/8/2019) dini hari.

Korban diketahui bernama Sumarno (35) yang tinggal satu rumah dengan pelaku, tewas setelah dihujani tusukan dengan pisau di ruang tamu kediaman mereka.

Kontributor : Rahmad Hidayat

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here