Terkait Wisata Halal, Gubsu: Apa Pernah Anda Dengar Saya Mau Membuat Danau Toba Syariah?

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi menuturkan bahwa dia tak pernah mengungkapkan akan menjadikan kawasan Danau Toba menjadi kawasan syariah.

315
wisata halal di danau toba
Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi. (foto : kitakini.news/dhabit siregar)

Kitakini.news – Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi meluruskan desas-desus wisata halal di Danau Toba yang menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Edy Rahmayadi mengungkapkan bahwa dia tidak pernah mengatakan akan menjadikan kawasan Danau Toba menjadi kawasan syariah.

Edy Rahmayadi tidak pernah mengungkapkan akan merubah kearifan lokal yang selama ini ada di kawasan Danau Toba. Atas dasar itu, Edy Rahmayadi menegaskan, informasi yang beredar itu adalah hoaks dan fitnah.

Selaku pemimpin, Edy menyadari masyarakat Sumut terdiri dari berbagai ragam suku dan agama. Sehingga, pernyataan menjadikan kawasan Danau Toba menjadi wilayah syariah merupakan suatu fitnah terhadap dirinya.

“Apa pernah Anda dengar Saya bilang mau membuat Danau Toba syariah?,” tanya Edy Rahmayadi kepada wartawan, yang bertanya tentang wisata halal yang menjadi polemik di masyarakat di gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Rabu (4/9/2019).

Menurutnya, ada kesalahpahaman informasi atas pernyataan yang disampaikannya kepada wartawan, usai kunjungan Presiden Jokowi ke Danau Toba beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya, ada dua hal utama yang perlu diperhatikan mengenai kemajuan pariwisata kawasan Danau Toba.

Pertama, mengenai jumlah terbanyak wisatawan internasional berdasarkan negara masing-masing. Seperti, wisatawan Malaysia, segala keperluannya harus dipersiapkan sesuai dengan kebiasaan dan kebudayaan. Sehingga wisatawan bisa nyaman dan akan kembali lagi ke Danau Toba. Begitu pula dengan bangsa lain yang datang.

Kedua, mengenai infrastuktur. Menurutnya infrasturktur sebagai konsep pariwisata haruslah disiapkan juga. Dalam hal ini, infrastruktur yang akan dibangun, bukan mengenai akses (jalan) semata, akan tetapi pembangunan yang lebih mendekatkan kepada masyarakat Muslim. Sehingga memudahkan pengunjung Muslim untuk mendapatkan kebutuhannya di Danau Toba.

Hal tersebut bukan berarti sebagai bentuk untuk mengikis kebudayaan, maupun kearifan lokal.

“Harus siap infrastruktur akomodasi yang representatif,” jelas Edy Rahmayadi.

Baca Juga : Wacana Wisata Halal Geopark Kaldera Toba, Bupati Karo : “Kita Dukung”

Edy berharap kepada semua pihak agar polemik ini segera berakhir. Jika terus berlanjut dikhawatirkan akan berpotensi menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat Sumut. Masyarakat pun diingatkan untuk tidak percaya dengan fitnah dan hasutan.

“Jangan pernah percaya dengan hasutan dan fitnah,” tegasnya.

Konsep Wisata Halal di Danau Toba Tak Hilangkan Kearifan Lokal

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) menegaskan bahwa konsep Wisata Halal tidak menghilangkan kearifan lokal yang ada di Danau Toba. Konsep wisata halal bisa berjalan berdampingan dengan karifan lokal yang ada.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Bina Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Muchlis, saat menerima pengunjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba, di Ruang Pers, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Kecamatan Medan Polonia, Senin (2/9/2019) kemarin.

Muchlis menambahkan konsep wisata halal sudah berlangsung sejak lama dan hal itu bukanlah bentuk polarisasi masyarakat. Konsep tersebut untuk mengakomodasi kebutuhan para wisatawan yang datang ke Danau Toba. Saat ini angka pengunjung dari negara sekitar Indonesia adalah yang terbanyak, seperti Malaysia. Muchlis menyebut 55% wisatawan yang datang berkunjung berasal dari Malaysia.

Baca Juga : Ketua DPRD Deliserdang : Wisata Halal Danau Toba Bisa Jadi Ikon Dunia

“Tidak kita larang itu, wisata halal beda dengan konsep wisata syariah, wisata halal hanya sekadar memberi kebutuhan bagi wisatawan. Wisata halal bukan berarti meniadakan, makanya kearifan lokal tidak terganggu,” kata Muchlis.

Kontributor : Dhabit Siregar
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here