Harga Sayur di Karo Anjlok, Petani Biarkan Tanamannya Membusuk

Harga sejumlah sayuran di Kabupaten Karo, Sumatera Utara anjlok dan hal itu membuat para petani merugi, bahkan petani membiarkan sayurannya tidak dipanen sampai membusuk karena harganya turun drastis.

162
harga sayur di karo
Dampak harga sayur murah, petani membiarakan tanaman sayur kol membusuk di ladang. (foto : kitakini.news/bayu pramana)

Kitakininews – Harga sejumlah sayuran di Kabupaten Karo, Sumatera Utara anjlok. Hal itu menyebabkan para petani merugi. Bahkan petani membiarkan sayurannya tidak dipanen dan dibiarkan membusuk, karena harga sayur di Karo turun drastis.

Diketahui, setelah komoditi hasil pertanian seperti jeruk anjlok ke harga Rp 3.500 per kg, kini harga berbagai sayur-mayur juga turun, terhitung sejak Juli 2019 lalu.

Anjloknya harga sayuran sangat dikeluhkan para petani. Seperti keluhan para petani sayur di Desa Tigapanah dan Desa Dolatrayat, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo yang dikenal sebagai daerah penyuplai sayur.

Dampak anjloknya harga-harga sayur mayur tersebut membuat tak sedikit para petani yang mengalami kerugian secara ekonomi.

Ketua Kelompok Tani Desa Tigapanah, Kecamatan Tigapanah, Kabupaten Karo, Rs Sinuraya (58) mengatakan, sejak Juli lalu, harga jual berbagai komoditi sayuran menurun drastis.

Penurunan harga sayuran ini dirasakan semakin mempersulit ekonomi para petani. Apalagi, saat ini sudah memasuki masa musim kemarau.

“Hampir semua harga sayuran turun dan anjlok, mungkin karena ada pengaruh musim kemarau ini. Jadi banyak rugi dan ada yang tak balik modal,” terangnya saat ditemui wartawan di Pajak Tradisional Tigapanah Kecamatan Tigapanah , Selasa (10/09/2019).

Kemerosotan harga jual sayuran dari petani seperti kol bulat yang normalnya seharga Rp 2.500-3.000 kini hanya Rp 700/Kg. Tomat Rp 6.000/Kg, kini hanya Rp 1.200 /Kg. Wortel Rp 3.500/Kg turun menjadi harga Rp 1.500/Kg. Begitu juga dengan sayur putih dari Rp 3.500/Kg turun menjadi Rp 1.200/Kg.

“Paling parah itu turunnya harga tomat. Normalnya lima ribu sampai enam ribu per kilo. sekarang cuma delapan ratus rupiah perkilonya. Jadi kebanyakan dibiarkan saja sama petaninya gak dipanen,” ujarnya.

Rs Sinuraya menjelaskan merosotnya harga sayuran kemungkian disebabkan oleh melimpahnya suplai sayuran dari berbagai daerah di Sumatra Utara.

“Karena musim kemarau juga, petani cari cara lain untuk cari sumber air, supaya bisa mengairi sawahnya. Ada juga sampai beli air, untuk nyiram tanamannya,” keluhnya.

Meski begitu, dia membeberkan, tidak semua komoditi sayuran anjlok. Seperti harga cabai rawit yang kini berada di harga Rp 60.000/Kg dan cabai keriting yang tetap berada di harga Rp 65.000/Kg dan cabai hijau Rp 35.000/Kg.

“Tapi cuma dua komoditi itu saja yang harganya bagus, yang lainnya ya, ambruk harga jualnya,” imbuhnya.

Harga Sayur di Karo Anjlok, Petani Merugi

Dengan kondisi harga jual sayuran saat ini, Rs Sinuraya beserta petani lainnya mengalami kerugian materi. Pasalnya untuk menanam tomat 3.000 batang saja biayanya bisa mencapai Rp 15 juta.

“Imbasnya ya para petani kerugian karena untuk modalnya saja tidak kembali dengan anjloknya harga sayuran ini,” ucapnya.

Rs Sinuraya mengharapkan, Pemerintah Kabupaten Karo harus jeli dalam membuat regulasi supaya petani tidak merugi.

Baca Juga : Puluhan Pedagang Jadi Korban Penipuan Koperasi Bodong, Kerugian Rp 30 Miliar

“Semakin sulit dengan kondisi saat ini dikarenakan tidak ada jaminan harga jual dari pemerintah ketika harga sayuran mengalami penurunan seperti sekarang ini,” tandasnya.

Kontributor :  Bayu Pramana
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

1 KOMENTAR

  1. Kurangnya pangsa pasar serta melimpahnya hasil panen kayaknya ikut andil dalam masalah ini.
    Ada baiknya pemerintah juga mengupayakan ekspor tomat kedepannya agar tidak perlu terulang masalah ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here