Asap Kebakaran Hutan, Jika Disengaja Merupakan Suatu Kedzoliman

Melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kerusakan, pencemaran lingkungan, kerugian orang lain, gangguan kesehatan, dan dampak buruk lainnya, hukumnya haram, (Majelis Ulama Indonesia).

92
Asap kebakaran hutan
Asap kebakaran hutan mengganggu kesehatan dan aktifitas masyarakat (foto: kitakini.news)

Kitakini.news – Asap kebakaran hutan yang terjadi di Riau, Kalimantan, Mojokerto, Lereng Danau Toba, dan beberapa hutan di daerah Tapanuli telah mengakibatkan banyak kerugian masyarakat. Jika asap kebakaran hutan ini disebabkan adanya unsur kesengajaan oleh segelintir orang, maka hal ini termasuk suatu kedzoliman yang nyata.

Sebagaimana Allah SWT berfirman,

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoa lah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik,” (Surat al A’raf, ayat 56).

Seorang penulis kitab Al-Muntaqa Syarah al-Muwatta`, Sulaiman bin Khalaf Al-Baji Al-Maliki, melarang umat Islam membakar tungku yang asapnya bisa mengganggu dan membahayakan orang lain,

“Dilarang menyalakan tungku dan membuat kamar mandi yang asap (dan baunya) bisa menganggu dan membahayakan tetangga secara permanen. Melakukan aktivitas pembakaran, yang mana asapnya bisa menganggu dan membahayakan para tetangga, merupakan aktivitas terlarang meskipun membawa maslahat untuk segelintir orang,” jelas al Maliki.

Asap kebakaran hutan
Pekanbaru, Riau, diselimuti kepulan asap tebal kekuningan (foto: kitakini.news)

Fatwa Ulama, Tentang Hukum Pembakaran Hutan di Indonesia

Asap kebakaran hutan sudah jelas membawa dampak yang membahayakan bagi kelangsungan kehidupan masyarakat dan makhluk lainnya.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta (27/7/2016), Nomor 30 Tahun 2016 tentang “Hukum Pembakaran Hutan dan Lahan serta Pengendaliannya,” menetapkan beberapa Ketentuan Hukum sebagai berikut,

1. Melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kerusakan, pencemaran lingkungan, kerugian orang lain, gangguan kesehatan, dan dampak buruk lainnya, hukumnya haram.

2. Memfasilitasi, membiarkan, dan/atau mengambil keuntungan dari pembakaran hutan dan lahan sebagaimana dimaksud pada angka 1, hukumnya haram.

3. Melakukan pembakaran hutan dan lahan sebagaimana dimaksud pada angka 1 merupakan kejahatan dan pelakunya dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat kerusakan dan dampak yang ditimbulkannya.

4. Pengendalian kebakaran hutan dan lahan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum, hukumnya wajib.

5. Pemanfaatn hutan dan lahan pada prinsipnya boleh dilakukan dengan syarat-syarat sebagai berikut:

a. Memperoleh hak yang sah untuk pemanfaatan.
b. Mendapatkan izin pemanfaatan dari pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan berlaku.
c. Ditujukan untuk kemaslahatan.
d. Tidak menimbulkan kerusakan dan dampak buruk, termasuk pencemaran lingkungan.

6. Pemanfaatn hutan dan lahan yang tidak sesuai dengan syarat-syarat sebagaimana yang dimaksud pada angka 5, hukumnya haram.

Rekomendasi MUI Terkait Pembakaran Hutan

Selain ketentuan hukum, Majelis Ulama Indonesia juga mengeluarkan rekomendasi kepada beberapa elemen sebagai berikut,

1. Pemerintah, baik pusat maupun daerah agar,

a. Melakukan harmonisasi regulasi terkait dengan pemanfaatan hutan dan lahan sehingga tidak terjadi tumpang tindih.

b. Melakukan sosialisasi peraturan UU dan norma terkait pemanfaatan hutan dan lahan dengan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan keagamaan dengan melibatkan tokoh agama.

c. Melakukan edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat terkait pemanfaatan hutan dan lahan dengan berbagai pendekatan, antara lain dalam bentuk penyuluhan dan ceramah keagamaan.

d. Melakukan pemberdayaan masyarakat dengan penguatan konsep perhutanan social dan memfasilitasi penyiapan areal hutan dan lahan tanpa bakar.

e. Menyiapkan teknologi yang ramah lingkungan.

f. Membuat kebijakan yang adil dalam hal pemberian izin usaha pemanfaatan hutan dan lahan bagi masyarakat.

g. Melakukan pengendalian kebakaran hutan dan lahan dengan membangun sinergi antara institusi / lembaga yang terkait.

h. Melakukan penegakan hukum yang tegas dan adil terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kerusakan, pencemaran lingkungan, kerugian orang lain, gangguan kesehatan masyarakat, dan dampak buruk lainnya, baik oleh individu ataupun badan usaha.

2. Pelaku usaha agar,

a. Mentaati seluruh peraturan perundang-undangan terkait dengan pemanfaatan hutan dan lahan.

b. Melakukan pemberdayaan masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan dan lahan, agar lebih sejahtera.

c. Menjamin terwujudnya kelestarian lingkungan.

d. Menyediakan sumber daya manusia dan sarana prasarana untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

e. Mengupayakan teknologi penyiapan pembukaan lahan yang ramah lingkungan.

3. Masyarakat agar,

a. Melakukan upaya konstruktif dalam penyiapan area hutan dan lahan tanpa bakar.

b. Melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan sesuai ketentuan yang berlaku.

c. Berpartisipasi aktif dalam mengawasi dan mencegah praktik pembakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan kerusakan, pencemaran lingkungan, kerugian orang lain, gangguan kesehatan masyarakat, dan dampak buruk lainnya.

4. Pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat

Melakukan upaya percepatan pelestarian alam, melalui reboisasi dan retorasi pasca kebakaran.

Fatwa MUI ini menjadi teguran dan peringatan kembali bagi kita semua baik pemerintah, pengusaha, dan masyarakat. Bahwa betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di mana tempat kita berada.

kebakaran hutan di Riau
Terlihat upaya masyarakat akhirnya berserah diri kepada Allah Swt (foto: kitakini.news)

Kedzoliman akan Mendatangkan Kegelapan di Hari Kiamat

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda,

Asap kebakaran hutan

Dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Rasulullah Saw bersabda,

“Janganlah berbuat dzhalim, karena perbuatan dzhalim itu mendatangkan kegelapan di hari qiamat nanti,

dan jauhilah berbuat kikir karena kekikiran itu menghancurkan atau membinasakan orang-orang sebelum kalian, membawa mereka (kepada) pertumpahan darah, dan menghalalkan apa yang (telah) diharamkan,” (Hadits Riwayat Muslim).

Dalam hadits lain Rasulullah Saw juga bersabda,

asap kebakaran hutan

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, “Tidak boleh membahayakan atau merugikan diri sendiri dan orang lain,” (Hadits Riwayat Ibnu Majah, al Thabrani dan al Baihaqy).

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here