Fakta Hubungan Palestina dan Indonesia Yang Tidak Banyak Orang Tahu

Film ‘Hayya’ Merupakan Bentuk Kepedulian Anak Bangsa Indonesia Terhadap Warga Palestina Dari Penjajahan Yahudi Israel.

131
Palestina dan Indonesia
Konflik panjang Negara Muslim Palestina dari jajahan Yahudi Israel (foto: Synopsis film Hayya)

Kitakini.news – Pada 16 November 1988, Indonesia menyambut baik Deklarasi Kemerdekaan Palestina oleh Dewan Nasional Palestina di Aljir, Aljazair dan telah mengakui Negara Palestina. Selanjutnya pada 19 Oktober 1989, ditandatangi kesepakatan diplomatik bersama hubungan Palestina dan Indonesia. Inilah awal dari fakta hubungan Palestina dan Indonesia yang tidak banyak orang tahu.

Warga Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim selalu peduli kepada warga Palestina. Inilah bentuk hubungan Palestina dan Indonesia.

Sehingga tidak sedikit bantuan dan sukarelawan yang dikirim untuk membantu ekonomi, pendidikan, pangan, dan lain-lain yang dianggap dibutuhkan oleh warga Palestina akibat dari pembantaian Yahudi Israel.

Muslim Palestina Pertahankan Tanah Airnya dari Penjajahan Yahudi Israel

Beberapa alasan mengapa kaum Muslimin lebih berhak Terhadap bumi Palestina dibandingkan orang-orang Yahudi, yang dikutip dari berbagai sumber,

1. Sesungguhnya kaum musliminlah yang membebaskan Al Quds (Yerusalem) dari kehancuran yang dilakukan oleh orang-orang Romawi.

Kaum muslimin tidak merebutnya dari orang-orang Yahudi. Setelah menguasai Palestina justru kaum muslimin menjaga gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah mereka.

2. Selama 12 abad kaum muslimin berada di Palestina dan menjadikan Baitul Maqdis sebagai ibu kota bagi mereka dan menjalani pemerintahan dengan cara-cara syari’ah serta menyirami buminya dengan berbagai kebaikan dan penuh ibadah kepada Allah swt.

Mereka tidak pernah meruntuhkan kota atau membakarnya, mereka tidak pernah mengusir penduduknya yang non-muslim bahkan mereka semua dapat hidup dengan rasa aman selama pemerintahan islam.

3. Orang-orang Israil tidak mungkin bisa melakukan semua yang telah dilakukan pemerintahan islam disana, yang telah menyinarinya dengan berbagai kebaikan dan toleransi yang tinggi.

Kaum muslimin melakukan itu semua dikarenakan aqidah dan keimanan mereka kepada para nabi Allah sementara orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang tidak mengimani risalah Isa dan juga Muhammad. (Al Quds Asy Syarif Haqoiqut Tarikh hal 4 -5)

4. Risalah Muhammad saw adalah risalah yang meneruskan nabi-nabi termasuk Ibrahim, Ishaq, Yaqub, Musa dan Isa yang mereka semua juga dinamakan oleh Allah swt sebagai orang-orang yang berserah diri (muslim).

Sehingga kaum muslimin lebih berhak mewarisi bumi Palestina dari pada orang-orang Yahudi saat ini.

Dengan demikian kaum muslimin tidak rela apabila Al Quds diambil alih oleh kaum yang suka melakukan kerusakan di muka bumi.

Tak Banyak Yang Mengungkap Hubungan Palestina dan Indonesia di Awal Kemerdekaan NKRI

Dilansir dari Republika.co.id (17/8/2019) Pada satu pertemuan, seorang sejarawan mengisahkan ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Timur Tengah,

Saat berkeliling dengan mobil terbuka, masyarakat setempat mengelukan sang flamboyan sambil berteriak…“Ahmad, Ahmad, Ahmad…”

Ya, di Timur Tengah, ia lebih dikenal dengan nama Ahmad Soekarno. Semua bermula saat diplomat Indonesia sedang menggalang dukungan dari negara-negara Timur Tengah untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Setelah berbulan belum juga mendapatkan pengakuan dari negara lain, Timur Tengah menjadi prioritas mengingat kesamaan nasib dan kedekatan spiritual Islam.

Akan tetapi satu pertanyaan kemudian terlontar saat bertemu seorang delegasi negara Timur Tengah.

“Apakah bangsa ini bangsa Muslim?”
“Ya, mayoritas Muslim, “Jawab diplomat Indonesia.
“Siapa presidennya?”
“Soekarno.”

Nama Soekarno membuat delegasi Arab mengernyitkan kening. Berjuang untuk bangsa muslim tetapi nama yang digunakan tidak terdengar nuansa Islam.

Melihat keraguan yang timbul, spontan diplomat Indonesia mengambil inisiatif.
“Namanya Ahmad Soekarno!” ujarnya cepat-cepat mengoreksi.

Mendengarnya sang diplomat timur tengah tersenyum dan singkat cerita mengakui kemerdekaan Indonesia.

10 Negara Pertama Yang Mendukung Kemerdekaan NKRI

Tercatat dalam sejarah 10 negara pertama yang menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia, adalah negara-negara Islam di kawasan Afrika dan Timur Tengah.

Negara-negara tersebut yaitu, Palestina, Mesir, Libanon, Suriah, Irak, Saudi Arabia, Yaman juga menyusul Afganistan, Iran dan Turki.

Selain itu, jangan lupakan juga Vatikan sebagai negara kelima yang pertama-tama mengakui kemerdekaan Indonesia.

Sebenarnya jika diurut sejak awal, pembelaan ini bermula dari dukungan seorang Mufti besar Palestina yang mengakui kemerdekaan Indonesia sejak masa penjajahan Jepang. Ya, jauh sebelum negara lain.

Hal tersebut diungkap dalam buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri”, yang ditulis oleh M. Zein Hassan Lc, dalam buku “Ziarah Sejarah; Mereka yang Dilupakan” karya Hamid Nabhan.

Pada tahun 1944 Jenderal Kuniaki Koiso (Perdana Menteri Jepang) berjanji akan memberi kemerdekaan terhadap Indonesia.

Mufti Besar Palestina Yang Pertama Sekali Mendukung Kemerdekaan NKRI

Mufti Besar Palestina, Amin Al-Husaini secara terbuka mengumumkan dukungannya atas kemerdekaan Indonesia via Radio Berlin berbahasa Arab.

Berita yang disiarkan melalui radio tersebut terus disebar-luaskan selama 2 hari berturut-turut. Bahkan buletin harian “Al-Ahram” yang terkenal juga menyiarkan.

Saat itu, sang ulama Mufti Besar Palestina tersebut bersembunyi di Jerman pada permulaan Perang Dunia II, berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al-Quds, Palestina.

Tak hanya memberi dukungan, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini kemudian mendesak Negara-negara Timur Tengah lain untuk mengikuti jejaknya.

Seruan yang disampaikan Muhammad Amin Al-Husaini ini lalu disambut baik oleh Mesir.

Setelah Palestina, Mesir merupakan negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Mesir mengakui kedaulatan Republik Indonesia tepatnya pada 22 Maret 1946.

Peran Palestina terkait ini sungguh luar biasa dan tidak mungkin dilupakan.

Hubungan Palestina dan Indonesia, Dukungan Bagi Kemerdekaan Palestina

Sejak zaman Soekarno hingga masa kini, hubungan Palestina dan Indonesia tetap konsisten. Dimana Indonesia terus memberi dukungan bagi kemerdekaan Palestina, bahkan saat harus berhadapan dengan AS yang mempunyai kebijakan berbeda.

Alhamdulillah 74 tahun sudah kita merdeka, salah satunya dengan dukungan Palestina. Tragisnya justru bangsa Palestina masih berada di bawah cengkraman kekuasaan penjajah Yahudi Israel.

Dengan logika itu maka hutang kita terhadap negeri baitul maqdis belum terbayar. Walau demikian diplomat tanah air tetap berjuang dari jalur diplomasi, sementara Ulama dan ummat berjuang lewat berbagai gerakan kepedulian.

Seniman dan Budayawan pun berjuang lewat jalur budaya, salah satunya via film ‘Hayya’. Ikthiar kecil berupa karya film layar lebar yang diniatkan menggugah kepedulian akan perjuangan rakyat Palestina.

Film ‘Hayya’ Menggambarkan Konflik Panjang Yang Dialami Warga Palestina

Hari ini Kamis (19/9/2019), sebuah film ditayangkan perdana di seluruh bioskop di Indonesia menampilkan sebuah karya berjudul; The Power of Love 2 ‘HAYYA’. Turut dibintangi oleh Adhin Abdul Hakim dan Ria Ricis.

Terinspirasi dari film 212 The Power of Love, menjelma menjadi gerakan produktif untuk peduli pada nasib warga Palestina, dengan memunculkan sebuah film, dengan judul; The Power of Love 2 ‘HAYYA’.

Yang mengangkat konflik panjang pada sebuah Negara Palestina yang dijajah Yahudi Israel sejak 1948.

Hayya seorang gadis lugu yatim piatu korban konflik, bercerita tentang Rahmat (diperankan Fauzi Baadila), seorang jurnalis majalah Republik yang sebelumnya terpaksa ikut aksi demi mendampingi sang ayah yang sedang sakit-sakitan.

Kali ini, Rahmat dikisahkan dihantui perasaan bersalah dan dosa di masa lalu. Dengan kondisi tersebut, dia yang juga sedang belajar memahami arti tentang cinta dan keimanan merasa perlu melakukan hal yang berbeda dalam proses hijrahnya.

Kehadiran Hayya banyak membawa perubahan terhadap kehidupan Rahmat. Namun suatu ketika Rahmat harus kembali ke Indonesia karena harus menikah dengan Yasna.

Kenyataan tersebut lantas membuat Hayya terluka. Hubungan Rahmat dengan Hayya pun menjadi kompleks.

Begitulah sekilas film yang ditayangkan perdana hari ini di seluruh bioskop di Indonesia, seperti dikutip dari synopsis film tersebut.

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here