Ini Hukum Bersenggama di Masa Menyusui

Islam sangat perhatian terhadap seorang ibu di masa menyusui anaknya, sehingga menganjurkan suami untuk menjaga agar si isteri tidak hamil di masa menyusui.

46
Bersenggama di masa menyusui
Kehamilan di masa menyusui dapat merusak ASI, dan akhirnya bayi berhenti menyusui (foto: edited from hellosehat.com)

Kitakini.news – Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, pernah melarang menggauli (menyetubuhi) isteri yang sedang dalam masa menyusui. Karena dinilai sebagai perbuatan aniaya. Ini Hukum bersenggama di masa menyusui.

Dari Aisyah dari Judzamah binti Wahb saudarinya Ukasyah, dia berkata, Saya hadir waktu Rasulullah bersama orang-orang, sedangkan beliau bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنْ الْغِيلَةِ ، حَتَّى ذَكَرْتُ أَنَّ الرُّومَ وَفَارِسَ يَصْنَعُونَ ذَلِكَ فَلا يَضُرُّ أَوْلادَهُمْ

“Saya pernah berkeinginan untuk melarang ghilah, hingga saya teringat orang-orang Romawi dan Persia mereka melakukan ghilah, ternyata tidak membahayakan anak mereka,” (Hadits Riwayat Muslim no.1442).

Pendapat Ulama Tentang Ghilah

Ibnu Al Atsir, dalam kitabnya “An-Nihayah Fi Ghoribi Al-Hadits Wa Al-Atsar” (vol 3, halaman 757), menjelaskan tentang Al-Ghilah,

“Al Ghilah maknanya, seorang suami menyetubuhi istrinya sementara dia di masa menyusui. Dan bisa juga bermakna, dia hamil sementara dia juga menyusui,” jelas Ibnu Al Atsir.

Dalam kamus “As-Shihah Fi Al-Lughoh,” (vol 2, halaman 31), Al Jauhary juga berkata,

“Dalam ungkapan, Ghilah membahayakan anak Fulan, (hal itu bermakna), jika ibunya disetubuhi sementara ibu tersebut menyusui anaknya. Demikian pula (makna Ghilah adalah) jika ibu tersebut hamil sementara dia menyusui anaknya,” jelas al Jauhary.

Maka ada dua pendapat, terkait makna Ghilah

1. Melakukan hubungan badan dengan isteri yang sedang menyusui,
2. Wanita hamil yang menyusui anaknya.

Sebagaimana An-Nawawi mengatakan,

اختلف العلماء في المراد بالغيلة في هذا الحديث , فقال مالك في الموطأ والأصمعي وغيره من أهل اللغة : أن يجامع امرأته وهي مرضع ، وقال ابن السكيت : هو أن ترضع المرأة وهي حامل

Ulama berbeda pendapat mengenai makna ghilah dalam hadis ini. Imam Malik dalam al-Muwatha’ dan al-Ashma’i serta ahli bahasa lainnya mengatakan, ghilah adalah melakukan hubungan badan dengan istri yang sedang menyusui.

Sementara Ibnu Sikkit mengatakan, ghilah adalah wanita menyusui bayinya sementara dia sedang hamil.

Rasulullah Melarang Bersenggama di Masa Menyusui Karena Khawatir Merusak ASI

Masih dari An-Nawawi, menjelaskan,

قال العلماء : سبب همِّه صلى الله عليه وسلم بالنهي عنها أنه يخاف منه ضرر الولد الرضيع

Para ulama mengatakan, sebab keinginan beliau (Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi wa sallam melarang ghilah adalah kekhawatiran beliau itu bisa membahayakan anak yang sedang menyusui. (Seperti dikutip dari, Syarh Muslim, 10/17).

Selanjutnya disimpulkan oleh Prof. Dr. M. Mutawalli asy Sya’rawi, terkait larangan bersenggama di masa isteri sedang menyusui, tidak menjadi hal yang mutlak.

“hal itu dimaksudkan hanya untuk mencegah timbulnya bahaya dan gangguan, seperti yang dibuktikan kebenarannya oleh ilmu kedokteran modern saat ini,” ungkapnya.

Terkait tentang hadits riwayat Muslim no.1442, di atas, Prof Mutawalli mengatakan, suami harus bisa menjaga agar isteri yang sedang menyusui itu tidak hamil.

“Hendaklah suami menjaga agar jangan sampai si isteri yang sedang menyusui itu menjadi hamil, yang menyebabkan air susunya rusak dan si bayi berhenti menyusu,” jelas Prof Mutawalli.

Ilmu kedokteran membuktikan bahwa air susu ibu sangat diperlukan si bayi untuk ketahanan tubuh dan pertumbuhan badan dan kecerdasan otaknya.

Selanjutnya Prof Mutawalli juga menjelaskan hukum bersenggama di masa menyusui, tidak dilarang agama.

“Tidak dilarang agama, asalkan mampu menjaga agar si isteri tidak hamil,” jelas Prof Mutawalli, dalam kitabnya “Anta Tas alu Wal Islaamu Yujiibu” (Cet.1, 2007, Halaman 276).

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here