Nilai Ekspor CPO Dari Sumut Menurun, Ini Sebabnya

Nilai ekspor kelapa sawit dari Indonesia menurun di periode Januari-Agustus 2018 dikarenakan beberapa hal dan salah satunya karena permintaan dari negara tujuan utama menurun.

26
nilai ekspor cpo
Wakil Ketua Umum Kadin Sumut, Jonner Napitupulu memuku gong sebagai tanda dibukanya Palmex Indonesia 2019 di Hotel Santika, Medan, Selasa (8/10/2019). (foto : kitakini.news)

Kitakini.news – Nilai ekspor CPO dari Indonesia, termasuk juga Sumatera Utara (Sumut) menurun. Hal itu karena melemahnya permintaan sejumlah pasar tujuan utama dan karena Indonesia diterpa isu negatif terkait perkebunan kelapa sawit.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sumut, Jonner Napitupulu mengungkapkan berdasarkan data dari Kementrian Perdagangan Indonesia menjadi negara pengekspor minyak kelapa sawit terbesar dunia. Dengan pangsa pasar 54,19% total ekspor dunia di tahun 2018.

Diikuti oleh Malaysia 29,27%, India 19,96%, Tiongkok 10,31%, Pakistan 6,18% dan negara pengekspor minyak kelapa sawit lainnya.

Semantara dari Sumut menyumbang USD 4 miliar dari total nilai ekspor Indonesia ke sejumlah negara.

“Namun sayangnya, dalam periode Januari hingga Agustus 2018, nilai ekspor Indonesia menurun,” paparnya di acara pembukaan Palmex Indonesia 2019 di Hotel Santika, Medan, Selasa (8/10/2019).

Jonner menambahkan, hal itu dikarenakan oleh melemahnya permintaan pasar. Selain itu juga karena tingginya persediaan minyak nabati dan sejenisnya di pasar global, seperti minyak biji bunga matahari.

Selain itu, menurutnya, kesenjangan kwalitas ekspor minyak kelapa sawit juga menjadi suatu tantangan tersendiri industri kelapa sawit di Indonesia. Seperti pemetikan kelapa sawit, jangan terlalu tua dan jangan terlalu muda.

“Supaya, pas panen, kelapa sawitnya benar-benar matang. Untuk itu, Palmex harus berperan dalam hal ini. Dengan teknologi yang baik, masalah ini Saya rasa bisa dituntaskan,” ungkapnya.

Selain itu, lebih lanjut Jonner menambahkan hal itu disebabkan juga oleh isu-isu negatif terkait keberadaan kebun kelapa sawit. Seperti kebun kelapa sawit merusak lingkungan dan lainnya.

Baca Juga : Denda Pajak Kendaraan Menunggak di Riau Dihapuskan

“Dalam 6 bulan terakhir ini, Sumut dikunjungi oleh beberapa duta besar seperti Jerman, Kanada, Belgia dan bahkan dari New York. Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memberikan informasi cover both side, untuk mengcover isu black campaign dari NGO tentang kelapa sawit,” jelasnya.

Nilai Ekspor CPO Menurun, Indonesia Belum Mampu Pengaruhi Harga Jual CPO

Di sisi lain, Jonner Napitupulu juga menyayangkan kondisi Indonesia yang juga belum mampu mempengaruhi harga jual Crude Palm Oil (CPO). Hingga saat ini, Eropa masih berperan mempengaruhi harga jual CPO dunia.

“Harga CPO juga masih dipengaruhi Eropa. Padahal, Indonesia jadi pemain terbesar kelapa sawit, tapi gak mampu mempengaruhi harga CPO,” ujarnya.

Jonner pun mengajak seluruh stakeholder industri kelapa sawit untuk bersatu menutaskan segala permasalahan kelapa sawit.

“Kita harus sama-sama berupaya membalikkan harga CPO ke angka 800 US Dolar per ton. Tekanan terhadap kwalitas sawit harus bisa kita antisipasi supaya Indonesia punya posisi tawar yang baik di mata dunia. Saya berharap, acara Palmex ini bisa memberikan manfaat bagi para industri kelapa sawit,” pungkasnya.

Diketahui, Palmex Indonesia 2019 merupakan pameran industri minyak sawit terbesar di Indonesia. Pameran yang digelar mulai 8 -10 Oktober 2019 itu diikuti oleh sejumlah perusahaan yang berkaitan dengan industri kelapa sawit. Mereka menghadirkan produk-produk teknologi terbaru bagi industri kelapa sawit.

Baca Juga : Polres Asahan Tembak 3 Pelaku Perampok Truk Tangki CPO

Dalam pameran tersebut, juga diadakan Indonesia International Palm Oil Conference (IIPOC) dengan tema “Revolusi Industri 4.0 di Industri Kelapa Sawit.

Kontributor : Imam Efendi
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here