Seekor Gajah Ditemukan Mati Membusuk di Bengkalis Riau

Gajah yang ditemukan mati membusuk bernama Dita, berumur sekitar 25 tahun.

132
gajah ditemukan mati
Gajah Dita yang ditemukan mati dalam kubangan air. (Foto : Ferry Anthony).

Kitakini.news – Seekor gajah ditemukan mati membusuk di kubangan dalam semak belukar di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Senin (7/10/2019).

Kepala Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya (BBKSDA) Provinsi Riau, Suharyono, menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan tim, Gajah yang ditemukan mati membusuk dipastikan bernama Dita, berumur sekitar 25 tahun. Untuk ciri fisik, ada cacat di kaki kiri depan atau tidak ada tapak karena pernah kena jerat.

“Tidak ada gading dan tidak ditemukan bekas benda tajam atau kekerasan fisik di tubuh gajah. Melihat dari ciri-cirinya gajah tersebut bernama Dita, anggota kelompok gajah di SM Balai Raja,” jelas Suharyono.

Suharyono menyebutkan, Dita diperkirakan telah mati sejak lima hari lalu. Penyebab kematiannya masih menunggu hasil nekropsi tim medis BBKSDA Riau.

Kepada Kitakini News Suharyono mengulas riwayat medis Dita. Pada 2014, tim BBKSDA Riau melakukan pengobatan pada telapak kaki depan yang sudah putus diperkirakan terkena jerat.

Pada 2016, tim medis BBKSDA Riau melakukan pengobatan luka pada kaki oleh tim medis BBKSDA Riau dan vesswic.

“Pada 2017, dilakukan pengobatan karena keadaan tubuhnya yang melemah. Tahun 2018 dilakukan lagi pengobatan sebanyak 2 kali oleh tim medis BBKSDA Riau dan vesswic,” ungkap Suharyono.

Beberapa kali pengobatan, gajah Dita kembali beraktivitas bersama kelompoknya. Keadannya masih terus dipantau oleh BBKSDA bersama Himpunan Penggiat Alam (Hipam) dan RSF.

Suharyono menambahkan, Gajah Dita termasuk dalam dua kelompok gajah di SM tersebut. Selama ini, gajah tanpa tapak kaki itu hidup dengan gajah bernama Seruni dan anaknya.

“Mereka selalu bertiga, terkadang ada gajah jantan yang datang tapi tidak menetap,” tambahnya.

Selain Seruni, ada kelompok lainnya yang tinggal cukup berjauhan dan berjumlah tiga ekor juga. Kelompok ini juga didominasi gajah betina dewasa.

“Perkiraannya ada tujuh gajah di sana, termasuk gajah jantan yang sifatnya soliter atau menyendiri,” ucap Suharyono.

Baca Juga : Polisi Tangkap Residivis Pembobol Mesin ATM Modus Ganjal Tusuk Gigi

Lima hari menjelang tanggal 7 Oktober 2019 Kala itu, gajah Dita hanya berdiam diri di kawasan hijau atau green belt SM Balai Raja.

Karena tak terlihat lagi sejak akhir pekan, tim pemantau masuk ke green belt. Gajah Dita ditemukan tapi sudah tak bernyawa lagi di kubangan berair.

Tidak Ditemukan Tanda Kekerasan di Tubuh Gajah Dita

Isi perutnya keluar diduga akibat pembusukan dan tekanan gas dari lambung. Tidak ada tanda kekerasan lain seperti tembakan atau luka jerat baru.

“Untuk penyebab pasti kematiannya, harus menunggu pemeriksaan mendalam tim medis,” ungkap Solfarina.

Menurut Suharyono lagi, kematian gajah Dita diduga akibat penyakit di kaki yang sudah dideritanya sejak tahun 2014.

Suharyono juga membantah gajah ditemukan mati tersebut akibat ulah pemburu gading gajah. Pasalnya, gajah betina jarang sekali memiliki gading.

“Dita tidak punya gading, diduga kuat karena penyakit, bukan karena pemburu liar mengincar gading,” tegas Suharyono.

Baca Juga : Satu Pencuri di Indomaret Diringkus Polisi, Dua Orang Lagi DPO

Kematian gajah Dita otomatis mengurangi populasi gajah sumatra di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, terutama Riau. Hal ini sangat disayangkan karena spesies satwa berbelalai itu terancam punah.

Gajah Ditemukan Mati Membusuk dalam Kubangan

Kontributor : Ferry Anthony
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here