BBKSDA Riau Dalami Penyebab Kematian Gajah Dita

Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau akan selidiki penyebab kematian gajah tersebut untuk mencegah terjadinya kasus serupa.

99
gajah dita
Bangkai gajah bernama Dita yang ditemukan mati di kubangan di Bengkalis. (Foto : Ferry Anthony).

Kitakini.news – Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mulai mendalami penyebab kematian gajah Dita di kawasan Suaka Marga Satwa (SM) Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui penyebab kematiannya.

Untuk mengungkapkan kasus kematian gajah tersebut, (BBKSDA) Riau melakukan neukropsi sebagai salah satu langkah mendalami kematian satwa langka tersebut. Untuk gambaran sementara, satwa dilindungi tersebut mati diduga karena sakit.

Kepala BBKSDA Riau, Suharyono kepada Kitakini News mengatakan sebagai tindak lanjut, pihaknya sudah menurunkan tim untuk melakukan kroscek di lapangan. Sehingga dapat diketahui kondisi riil di lapangan.

“Kita sudah turunkan tim ke lapangan. Gajah tersebut diduga mati karena sakit, karena hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan adanya luka di bagian badan,” ulasnya, Rabu pagi (9/10/2019).

Dengan kondisi tersebut untuk memastikannya, pihaknya akan melakukan neukropsi terhadap jasad gajah dengan ciri fisik lainnya tidak memiliki gading dan cacat kaki kiri depan dengan tidak adanya telapak kaki bekas terkena jerat tahun 2014 lalu.

Diharapkan kematian satwa langka tersebut tidak terulang lagi. Mengingat keberadaan satwa langka di Riau dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan dan terancam mendekati kepunahan.

Baca Juga : 7 Perempuan Diamankan dari KTV Hotel Tresya Positif Narkoba

Atas Kematian Gajah Dita, Hanya Tersisa Tujuh Ekor Gajah di Balai Raja Riau

Sementara itu, penemuan bangkai gajah bernama Dita yang telah membusuk pada Senin (7/10/2019) lalu membuat populasi gajah Sumatera di kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja Riau tinggal tersisa tujuh ekor.

Lokasi ditemukannya bangkai gajah Dita tersebut kondisinya saat ini telah banyak berubah, beralih fungsi dari hutan menjadi permukiman warga, kantor pemerintahan dan kebun kelapa sawit.

“Di Balai Raja tinggal tujuh ekor. Biasanya mereka terdiri dari dua sampai tiga kelompok,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono, kepada Kitakini News, Rabu (9/10/2019).

Habitat asli gajah Sumatera sudah tidak lagi hutan. Satwa bertubuh besar bernama latin elephas maximus sumatranus tersebut selalu dianggap warga sebagai hama yang merusak kebun kelapa sawit.

Kawasan konservasi yang jadi habitat satwa dilindungi tersebut awalnya ditetapkan seluas 18 ribu hektare, namun kini tersisa kurang lebih 150 hektare. Gajah liar yang ada kerap masuk ke perkebunan warga dan Hutan Talang yang relatif masih terjaga karena menjadi area lindung perusahaan minyak PT Chevron Pacific Indonesia.

Ancaman alih fungsi lahan dan pemasangan jerat masih terus menghantui keberadaan gajah yang tersisa. Gajah Dita adalah salah satu korban terkena perangkap jerat pada 2014 lalu. Telapak kaki kirinya buntung sebagian gara-gara insiden tersebut.

Upaya pengobatan terus dilakukan hingga 2017, namun lukanya tidak kunjung pulih sebelum akhirnya Dita ditemukan mati di kubangan pada Senin lalu (7/10/2019). Suharyono menduga penyebab kematian Dita akibat sakit.

“Perkiraan sementara kemungkinan sakit karena badannya utuh. Dia gajah betina tak memiliki gading jadi kemungkinan juga bukan mati akibat perburuan,” katanya.

Suharyono menjelaskan, tim dari BBKSDA Riau langsung menuju ke lokasi kematian gajah tersebut di Balai Raja Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis Riau untuk melakukan nekropsi atau bedah bangkai.

Baca Juga : 2 Orang Tewas Dalam Kebakaran Hebat di Bagan Siapi-Api Riau

Hasil identifikasi awal, terungkap bahwa bangkai tersebut dipastikan adalah gajah bernama Dita yang berusia lebih dari 25 tahun.

“Perkiraan kematian, identifikasi diperkirakan sudah lima hari. Hasil lengkapnya nanti kami ekspos setelah tim medis melakukan nekropsi untuk memastikan penyebab kematiannya,” tutup Suharyono.

Kontributor : Ferry Anthony
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here