Tidak Akan Bisa Memisahkan Ilmu Pengetahuan dari Agama

Ilmu pengetahuan tanpa agama dan agama tanpa ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak memiliki makna.

46
ilmu pengetahuan dan agama
Ilmu pengetahuan bersumber dari Ajaran Allah, melalui fitrah manusia dan hukum Allah pada alam semesta (foto: edited from mutiarapublic.com)

Kitakini.news – Ilmu Pengetahuan dan Agama tidak akan mungkin bertentangan. Karena semua ilmu pengetahuan itu dipastikan tidak bisa menghindar dari sumber utama, yaitu kitab suci al Quran.

Prof. Dr. M. Mutawalli Asy Sya’rawi, dalam kitabnya “Anta Tas alu Wal Islaamu Yujiibu” (edisi Indonesia, Cet. 1, 2007, halaman 71), menjelaskan bahwa agama meliputi kepentingan dunia dan akhirat.

“Tidak akan ada dan tidak akan bisa memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. Dunia akan berakhir dan berganti menjadi kehidupan akhirat. Sedangkan Agama meliputi kepentingan dua-duanya.

Mengungkap Polemik, 4 Fakta Agama dan Ilmu Pengetahuan yang Selalu Bertentangan

Sebuah artikel yang ditulis pada merdeka.com (12/2/2017), menyajikan 4 fakta tentang Agama dan Ilmu pengetahuan yang selalu bertentangan, dengan dasar berikut ini,

1. Otak memiliki dua jaringan yang sifatnya bertentangan

2. Pengalaman adalah yang menentukan Anda berada di ‘pihak’ mana

3. Menurut filsuf, kebenaran memang ada dua. Jadi, tak ada yang salah

4. Tiap orang cenderung akan memilih satu pemikiran dari pada yang lain – sains atau agama, agama atau sains !

Di dalam artikel yang ditulis pada merdeka.com (12/2/2017) di atas, tidak dijelaskan agama apa yang dimaksud bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan tersebut?.

Menjawab Kekeliruan “4 Fakta Agama dan Ilmu Pengetahuan yang Selalu Bertentangan,” dari Pandangan Agama Islam

Bagi kita umat Islam tentu meyakini bahwa tidak akan mungkin Ilmu pengetahuan bertentangan dengan Agama (Keimanan).

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Surat al Mujadalah, ayat 11).

Mustahil, jika orang yang memiliki ilmu pengetahuan tetapi tidak beriman akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Point pertama yang mengatakan, “Otak memiliki dua jaringan yang sifatnya bertentangan”

Otak yang bertentangan dengan kebenaran mutlak (agama / kitab suci al Quran), disebabkan adanya kontaminasi nafsu syahwat untuk menentang Sunnatullah.

Kerja otak tidak difungsikannya dengan baik, sehingga Allah memberi ganjaran dengan menarik fungsi otaknya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka,” (Surat al Alaq, ayat 15-16)

Tafsir Jalalain menjelaskan ayat ini, tentang ubun-ubun lafal Naashiyatan adalah isim Nakirah yang berkedudukan menjadi Badal (pengganti) dari isim Ma’rifat,

yaitu lafal an Naashiyah pada ayat (orang yang mendustakan lagi durhaka) makna dimaksud adalah pelakunya. Dia disifati demikian secara Majaz.

Point kedua yang mengatakan, “Pengalaman adalah yang menentukan Anda berada di ‘pihak’ mana”

Pengalaman tidak semata-mata menjadi penentu keberadaan posisi seseorang. Untuk sementara memang bisa jadi demikian. Tetapi seorang manusia diberikan potensi (fitrah) sumber daya berfikir benar secara Sunnatullah.

Seperti dilansir dari salamdakwah.com (12/1/2018), Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, Lc, menjelaskan bahwa, “setiap bayi yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah. Fitrah sesuai dengan apa yang Allah ciptakan di atasnya,”

Sebagaimana Allah berfirman,

“… (sesuai) fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu,” (Surat Ar Rum, ayat 30).

Menurut Ustadz Fuad Hamzah, Fitrah yang dimaksud adalah Islam. Dan kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya tetap Islam, atau akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi.

Dari Anas radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

*كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.* فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذلِكَ؟ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: *اللهُ اَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ*

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka ibu bapaknya yang menjadikan agamanya yahudi atau nasrani atau majusi,” Maka ada orang yang bertanya,“Ya Rasulullah, apa pendapat engkau tentang orang yang meninggal sebelum itu?,”

Beliau (Rasulullah) Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan,” (Hadits Riwayat Muttafaq ‘alaih).

Point ketiga yang mengatakan, “Menurut filsuf, kebenaran memang ada dua. Jadi, tak ada yang salah”

Al Quran merupakan kitab suci yang tidak ada keraguan di dalamnya. Maka Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa sumber kebenaran hanya satu yang datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui risalah Nya yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Rasulullah Shollahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (Surat Al Baqarah, ayat 2).

Selanjutnya dalam ayat lain dijelaskan,

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Surat al Maaidah, ayat 3).

Selanjutnya dijelaskan juga,

“Dan telah sempurna kalimat Rabb-mu (Al-Qur-an), (sebagai kalimat) yang benar dan adil …,” (Surat al An’aam, ayat 115).

Point keempat yang mengatakan, “Tiap orang cenderung akan memilih satu pemikiran dari pada yang lain – sains atau agama, agama atau sains”

Faktanya, dari dahulu hingga sekarang, non-muslim yang menjadi seorang muallaf ternyata lebih banyak dari golongan orang-orang yang berilmu pengetahuan luas dan mendapat hidayah dari potensi fitrah yang ia miliki.

Sebagaiman Allah berfirman,

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Allah). Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (Surat al Baqarah, ayat 256).

Selanjutnya dalam ayat lain, Allah juga berfirman,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat,” (Surat An Nasr, ayat 1-3).

Islam itu bukan pilihan, melainkan sudah merupakan fitrah manusia yang diberi ilmu pengetahuan.

Seperti dilansir dari republika.co.id (29/11/2015), guru besar UNM Mansyur H Gani, menuturkan Islam menempatkan sains dan ilmu pengetahuan sebagai suatu yang utama dalam upaya mengangkat harkat dan martabat manusia.

“Ilmu pengetahuan tanpa agama dan agama tanpa ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak memiliki makna. Banyak orang mempunyai pengetahuan namun tidak percaya dengan agama, begitupun sebaliknya,” beber dia.

Menurut dia, Alquran merupakan pedoman bagi umat manusia, ketika mereka ingin mendapatkan keselamatan dunia akhirat. Segenap persoalan kehidupan dapat ditemui dalam kandungan Alquran, tidak terkecuali ilmu pengetahuan.

“Isi kandungan surah Ar Rahman ayat 33, menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat mengetahui seluruh isi semesta dan menciptakan hal baru,” tuturnya.

Wallahu a’lam,

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here