Petani Tomat dan Cabai Terancam Gagal Panen di Karo

Petani tomat dan cabai di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara terancam gagal panen karena curah hujan yang tinggi belakangan ini.

50
tomat dan cabai
Tomat Petani yang terserang virus akibat curah hujan yang tinggi di Kecamatan Berastagi, Karo, Sumut, Kamis (31/10/2019). (foto : kitakini.news/bayu pramana)

Kitakininews – Petani tomat dan cabai terancam gagal panen dikarenakan curah hujan yang tinggi belakangan ini. Tanaman tomat dan cabai milik para petani Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara tersebut tidak mampu tumbuh secara normal.

Bahkan sejumlah tanaman terlihat mulai mati karena tidak mampu bertahan dalam kondisi cuaca ekstrim.

Salah seorang petani, J Purba (40) warga desa Ujung Aji mengaku pasrah dengan kondisi yang dihadapinya. Lahan seluas 1 hektar yang ditanami tomat dan cabai secara tumpang sari itu terlihat daunnya membusuk. Padahal, umur tanaman itu harusnya sudah mulai panen.

“Gimanalah ini, hujan terus setiap hari. Tanaman cabai dan tomat kita udah mulai busuk. Padahal udah mau panen. Udah pasrah ajalah ini,” terangnya kepada wartawan, Kamis (31/10/2019) pagi.

Dikatakannya cuaca hujan lebat yang hampir setiap hari mengguyur membuat akar tanaman membusuk. Sehingga meskipun dibantu dengan penyemprotan obat-obatan percuma.

Dipastikan J Purba mengalami kerugian. Karena modal yang dia keluarkan dari sejak awal menanam hingga menjelang panen sudah mencapai Rp 7 juta lebih.

“Kalau tanaman tomatnya itu sudah tak tertolong lagi. Soalnya daun sudah rontok semua sampai ke pucuk, buahnya pun kecil-kecil jauh dari ukuran standar. Mudah-mudahan cabai masih bisa bertahan biar kerugian tidak terlalu besar. Kalau bisa berharap, mudah-mudahan hujan jangan setiap hari,” keluhnya.

Baca Juga : Polsek Teluk Nibung Tampung Keluhan Masyarakat Lewat Coffee Morning

Harga Tomat dan Cabai Naik

Sementara itu harga tomat di sejumlah pasar tradisional di Berastagi, Karo dalam beberapa bulan terakhir bertahan di kisaran Rp 3000 – Rp 5000, naik dari harga normal Rp 3500 – Rp 4000. Disinyalir harga bertahan disebabkan banyaknya tanaman yang rusak hingga produksi menurun.

Namun, tingginya harga tidak otomatis membuat petani untung. Beberapa petani tomat yang dimintai keterangan menjelaskan biaya perawatan yang mereka keluarkan menjadi lebih besar kalau terlalu banyak hujan.

“Harga naik kan karena sedikit produksi. Banyak yang gagal kalaupun ada yang bertahan harus punya modal besar karena harus disemprot tiap hari. Belum lagi upah kerja,” ungkapnya.

Baca Juga : 99 Desa Di Padang Lawas Sumatera Utara Gelar Pilkades Serentak

Para petani pun berharap agar cuaca ekstrim ini dapat segera berlalu. Sehingga tanaman mereka dapat tumbuh subur dan tidak gagal panen.

Kontributor : Bayu Pramana
Editor : Khairul Umam

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here