Sholat Jum’at Pertama Kali Dilaksanakan Dalam Islam

Shalat Jum’at sudah diwajibkan ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah, sebelum terjadi Hijrah.

38
Sholat Jum'at
Sholat Jum’at Sudah Diwajibkan Sebelum Terjadi Hijrah (foto: aktaindonesia.com)

Kitakini.news – Kapan pertama kali Sholat Jum’at dilaksanakan ?. Sholat Jum’at yang dilakukan Rasulullah untuk yang pertama kali adalah di Wadi Ranuna, sekitar satu kilometer dari Masjid Quba, atau kurang lebih empat kilometer dari Madinah al Munawwarah.

M. Muhyiddin, dalam kitab “Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahmah”, hal. 61. Menjelaskan bahwa Wadi Ranuna adalah sebuah lembah milik keluarga Bani Salim ibn Auf. Di tempat itu Nabi dan rombongan melakukan shalat Jumat.

Sampai sekarang jamaah haji selalu menyempatkan diri berkunjung ke masjid yang diberi nama Masjid Jumat karena ia dipakai shalat Jumat untuk yang pertama kalinya oleh Rasulullah.

Namun dalam sejarah Islam, Sholat Jum’at ini bukan Sholat Jum’at yang pertama kali dilakukan.

Sholat Jum’at Sudah Diwajibkan Sebelum Terjadi Hijrah

Dinukil dari “Fiqih Islami wa Adillatuhu”, disebutkan bahwa shalat Jum’at sudah diwajibkan ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah, sebelum terjadi Hijrah.

Seperti yang diriwayatkan oleh Daruquthni dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu,

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk melaksanakan Shalat Jum’at sebelum melaksanakan Hijrah.

Akan tetapi, kaum Muslimin tidak bisa berkumpul di Makkah, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam, menulis surat kepada Mush’ab bin Umair yang berada di Madinah,

“ ‘Amma ba’du, perhatikanlah pada hari ketika orang-orang Yahudi mengumumkan untuk membaca kitab Zabur di hari Sabath-nya!, Kumpulkanlah wanita-wanita dan anak-anak kalian! Jika siang telah condong separuhnya, di tengah siang hari Jum’at, mendekatlah kepada Allah dengan dua raka’at,”.

Pada masa itu, umat Islam masih terjadi sengketa dengan kaum Quraisy (yang belum mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah), maka perintah tersebut tidak bisa dilakukan.

Sebab sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa salah satu syarat sahnya pelaksanaan Shalat Jum’at adalah harus dilakukan dengan berjamaah.

Ketika itu sangat sulit untuk mengumpulkan umat Islam secara bersama-sama di satu tempat pada waktu yang sama, dalam keadaan yang tidak aman.

Sholat Jumat yang Pertama Kali Dalam Islam, Dilaksanakan oleh Mush’ab bin Umair bin Hasyim

Meski tidak bisa melaksanakan shalat Jum’at, Nabi Muhammad masih sempat mengutus salah seorang sahabatnya untuk menyampaikan surat (pesan Rasul) kepada Mush’ab bin Umair bin Hasyim yang tinggal di kota Madinah, agar dia mengajarkan Al-Qur’an pada penduduk kota. Pada saat itu lah sejarah shalat Jum’at dimulai.

Karena selain mengajarkan Al-Qur’an, sahabat setia Nabi tersebut juga meminta ijin pada beliau untuk menyelenggarakan ibadah shalat Jum’at. Dan, Rasul dengan senang hati mengijinkannya.

Jadi dalam sejarah Islam, Mush’ab bin Umair bin Hasyim dan penduduk muslim yang berada di Madinah adalah yang pertama kali melakukan ibadah Sholat Jum’at ini.

Sementara, Nabi Muhammad sendiri baru bisa melakukan shalat Jum’at, ketika dia sudah berada di kota Madinah. Seperti dilansir dari facebook.com, SinergiStore.com (22/12/2016), dikutip dari Islampos.com Pict, Republika.

Isi Khutbah Sholat Jum’at yang Pertama Kali Dipimpin Rasulullah di Wadi Ranuna

Menurut Hanafi al-Mahlawi,

Dalam kitabnya “Al-Amakin al-Masyhurah Fi Hayati Muhammad”, memaparkan isi khutbah Sholat Jumat pertama Rasulullah, (jika diartikan dalam bahasa Indonesia) adalah sebagai berikut,

“Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.

Dia telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya dan pelajaran, setelah lama tidak ada rasul yang diutus, minimnya ilmu, dan banyaknya kesesatan pada manusia di kala zaman menjelang akhir dan ajal kian dekat.

Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk.

Dan, barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.

Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyerukan ketaqwaan kepada Allah.

Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya.

Sesungguhnya ketaqwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat,”.

(Selanjutnya Rasulullah membaca ayat),

“Barang siapa yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah, baik di kala sendiri maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu tidak lain kecuali hanya mengharapkan ridha Allah,

maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dilakukannya.

Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar masanya menjadi lebih panjang. Allah memperingatkan kamu akan siksa-Nya. dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya,” (Surat Ali Imran, ayat 30).

Menurut M. Khudry Bek,

Dalam kitab “Nur al-Yaqien”, hal. 82. Isi khutbah Rasulullah adalah sebagai berikut,

Nabi mewasiatkan beberapa pelajaran yang penting, di antaranya sebagai berikut,

“Wahai manusia, hendaklah kamu berbuat kebajikan bagi dirimu sendiri, kamu akan mengetahui, demi Allah, sesungguhnya seseorang dari kamu dikejutkan dengan suara gemuruh, sehingga meninggalkan domba gembalaannya, maka domba itu tidak ada penggembalanya lagi.

Allah berfirman padanya, padahal tidak ada penterjemah dan tidak ada penghalang yang menghalangi di sisi-Nya,

“Tidakkah rasul-Ku telah datang kepadamu menyampaikan kebenaran?, Aku karuniakan kepadamu harta dan kenikmatan yang banyak maka apa yang dapat kamu kerjakan untuk dirimu?,”

Orang itu kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, semuanya lengang tidak melihat sesuatu. Kemudian melihat ke depannya, ia pun tidak melihat sesuatu kecuali Jahannam.

Siapa yang ingin terlepas dari siksa Jahannam, meskipun hanya sekedar berbuat baik kepada orang lain dengan memberikan secuil buah kurma, hendaklah ia lakukan.

Jika secuil buah kurma pun tidak dimilikinya maka hendaklah ia bertutur kata yang baik. Karena tutur kata yang baik adalah amal perbuatan yang terpuji….”.

Khutbah tersebut mengarahkan umat manusia agar selalu berbuat kebajikan terhadap sesamanya dan tidak mencampakkan dirinya dalam kehancuran dan kenistaan.

Sebagai umat Islam, kita wajib memberikan bantuan terhadap mereka yang membutuhkannya.

Bantuan itu bisa berupa harta, wisdom (kebijaksanaan), jasa, nasehat, fikiran, do’a, dan bertutur kata yang baik.

Umat Islam diarahkan al Quran agar senantiasa menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tidak diperkenankan mengabaikan salah satunya.

(Selanjutnya Rasulullah membaca ayat),

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,

dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu,

dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (Surat Al Qashash, ayat 77).

Mutiara Hikmah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here