Tiang Listrik Minim, Komisi 3 DPRD Medan Konfrontasi PLN

$rows[judul] Keterangan Gambar : Afif Abdillah saat bertanya dengan perwakilan PLN saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi 3 DPRD Medan di gedung dewan, Selasa 924/1/2023). (foto : amelia)

Kitakini.news - Ketua Komisi 3 DPRD Medan Afif Abdillah mengatakan, banyak warga mengeluhkan minimnya tiang listrik. Akibatnya, warga terkendala saat mau menyambung aliran listrik ke rumah mereka.


Alternatif yang dilakukan adalah pemasangan listrik secara estapet. Dari atap satu rumah warga yang paling dekat dengan tiang listrik, kemudian dipasang secara estapet lagi ke rumah warga. 


Hal tersebut dinilai dapat memicu hubungan arus pendek dan dapat membahayakan.


"Saya khawatir, jika tidak ada penambahan tiang baru, kabel listrik di rumah warga rawan konsleting yang mengakibatkan kebakaran," ujar Afif Abdillah saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) PLN dengan Komisi 3 DPRD Medan di gedung dewan, Selasa 924/1/2023).


Hal senada juga disampaikan Anggota Komisi 3 DPRD Medan lainnya, Irwansyah, kondisi tiang listrik sangat memprihatinkan. Di mana tiang listrik yang digunakan dari besi bahkan ada yang dari kayu.


“Bisa dilihat kondisi tiang listrik sangat memprihatinkan, dari besi  dan sudah karatan bahkan ada yang dari kayu yang sudah rusak. Hal tersebut dinilai dapat membahayakan, karena sewaktu-waktu tiang listrik bisa roboh dikarenakan termakan usia dan juga busuk akibat terendam banjir," ungkapnya.


Menanggapi hal ini Manager PLN UP3 Medan Ediwan mengungkapkan masih banyak kendala yang dialami untuk pemindahan gardu listrik, dikarenakan tingginya biaya pemindahan. 


Menurut Ediwan, tingginya biaya pemindahan tiang listrik yang dibebankan kepada pelanggan selaku pemohon karena beberapa alasan. 


Alasan pertama, yang dipindahkan bukan satu tiang listrik biasa, tapi gardu listrik dengan dua tiang yang mengapit kotak ditengahnya. Karena itu, material yang harus diganti saat pemindahan jumlahnya lebih banyak dan kompleks.


Kemudian, saat proses pemindahan gardu atau tiang listrik, ada material yang tidak bisa dipakai lagi dan harus diganti. Beberapa material dapat diganti menggunakan material bekas layak pakai. Namun ada material yang harus diganti dengan yang baru, karena penggunaanya hanya sekali pakai.


“Jika ada material bekas yang layak pakai milik PLN, itu bisa digunakan secara gratis. Tapi terlebih dulu telah bersurat untuk mengajukan permohonan bantuan material. Kalau tidak ada stoknya di PLN, maka harus diganti oleh pelanggan. Disitu keluar biaya, tapi setidaknya mungkin bisa lebih meringankan biaya awal,” kata dia.


Alasan lain dari biaya pemindahan tiang atau gardu listrik cukup tinggi, karena pekerjaan dilakukan oleh pihak ketiga atau mitra PLN, sehingga timbul biaya jasa. Ia menyebut, setiap kasus pemindahan tiang atau gardu memiliki nilai yang berbeda.


“Kalau misalnya pemindahan tiang biasa, hanya kabel dan tiang saja mungkin biayanya tidak sampai Rp 10 juta, bahkan ada yang biayanya Rp 2 juta,” sebutnya.


Dia mengungkapkan, pemasangan tiang atau gardu listrik telah dilakukan atas seizin masyarakat setempat. Meski belakangan banyak ditemukan kasus, dimana ada tiang atau gardu listrik berada di tengah pekarangan rumah, ia memprediksi hal itu terjadi karena pembangunan rumah dilakukan setelah tiang listrik berdiri.


“Misalnya PLN mendirikan tiang setelah ada rumah, biasanya diambil pada posisi perbatasan agar tidak mengganggu masyarakat. Jika ada posisi tiang di tengah-tengah pekarangan atau rumah, mungkin saja awalnya tiang lebih dulu ada dibandingkan bangun rumahnya,” tandasnya.



Redaksi

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)